Selasa, 22 Mei 2018

PERDEBATAN MUKIDI TENTANG GAJAH

Ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 tepat. Bel di sekolah berbunyi dan para murid-murid  pun langsung berlarian untuk memasuki kelasnya masing-masing, termasuk juga Mukidi.


Sosok Mukidi memang sangat dikenal oleh para guru di sekolah itu. Anaknya sih enggak bandel-bandel amat. Namun, dia sangat populer sebagai anak yang nyebelin banget alias terlalu kreatif berlebihan.


Siang itu Mukidi duduk di paling depan, karena salah satu bangku teman yang ada di depan tidak masuk. Pelajaran hari itu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Dan kebetulan ini adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh Mukidi.


Nah dikesempatan tersebut, Ibu Guru membuat tebak-tebakan tentang nama hewan. Berikut dialog lucu mereka:


Ibu Guru: Hayoo Anak-anak, apa nama binatang yang dimulai dengan huruf G? Siapa yang bisa jawab?


Mukidi berdiri dan menjawab: Gajah, Bu Guru!


Ibu Guru: Bagus, Pintarr kamu Mukidi. Pertanyaan berikutnya, Apa nama binatang yang dimulai dengan huruf D?


Semua murid diam, tapi Mukidi kembali berdiri: 'Dua gajah, Bu Guru...'


Errrr.....semua murid tertawa terbahak-bahak.


Ibu Guru: 'Mukidi, kamu berdiri di pojok sana!


Ayo anak-anak kita lanjutkan. Pertanyaan berikut, binatang apa yang dimulai dengan huruf M?


Semua murid masih terdiam.


Tapi lagi-lagi Mukidi menjawab dengan tenang, 'Mungkin Gajah...'


Ibu Guru: 'Mukidi, kamu keluar dan berdiri di depan pintu sekarang!


Mukidi keluar dengan raut wajah sedih. Dan akhirnya Bu Guru melanjutkan...


Ibu Guru: Pertanyaan terakhir...Anak-anak, binatang apa yang dimulai dengan huruf J? Ayoo siapa yang mau jawab?


Murid-murid pun lagi-lagi terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu Guru


Dari arah pintu luar sayup-sayup terdengar suara Mukidi berteriak.


Mukidi: 'Jangan-jangan Gajah... Bu Guru...'


Damn! Saking kesalnya, Ibu Guru pun menyuruh Mukidi pulang.


Merasa sudah tenang tanpa Gangguan dari Mukidi, Ibu Guru pun lanjut memberikan pertanyaan


Ibu Guru: 'Sekarang anak-anak, binatang apa yang diawali dengan huruf P?


Sekali lagi semua murid hanya bisa terdiam. Tapi tiba-tiba ponsel Ibu Guru berdering di kantongnya.


Guru: Ia pun menjawab 'Ya hallo...Ini Siapa?


Mukidi: 'Maaf Bu, saya Mukidi, jawabannya sudah pasti Gajah.


Ibu Guru : #@!!*^#**

PESTA PERNIKAHAN

Polisi: “Ya’ opo critané sampèk koe nabrak uwong 20 iku?”

Mukidi: “Aku nyetir mobil kecepatan 90 km/jam.

Pas nang pertelon moro2 rèm-é blong. Nèk ngiwo onok wong lanang loro, lha nèk nengen onok pésta kawinan.

Cobak nèk Bapak, pilih nabrak sing endi?”

Polisi: “Yo mesti ngiwo, korbané luwih shithik.”

Mukidi: “Persis..!! Aku yo mikir ngono Pak !”

Polisi: “Trus lha ngopo wong2 sing nang pésta kawinan sing malah kowe tabrak?!”

Mukidi: “Lhaaa, niku masalahé. Aku wis milih wong lanang loro sing nang kiwo,….eh dèk-é mlayu nyabrang moro nang pésta kawinan…dadi aku yo mbanting stir nengen, nguber wong loro mau Pak…!”

Polisi: “Guoobluooogg. . . . !

Mukidi: ”'”Enggih leres!! pancen wong lanang loro mau guooblooogkk, Pak Polisi…




PILIH SURGA ATAU TENTARA?

Sehabis jam istirahat, Ibu guru bertanya kepada murid-muridnya.

Ibu Guru : Anak-anak siapa diantara kalian yang mau masuk surga?

Spontan semua murid menjawab, 'Sayaaaa ..'


Anehnya, Mukidi yang duduk dibelakang hanya terdiam saja


Hingga Ibu Guru pun memberikan pertanyaan yang lain.

Kalau yang mau masuk Neraka siapa hayooo tunjuk tangan?

Anak-anak: Tidak mauuuuuuuuu....!!!


Lagi-lagi Mukidi tetap diam tak bergeming.


Hal ini membuat Ibu guru merasa penasaran, ia pun mendekati muridnya tersebut..

Ibu Guru: Mukidi, kamu mau masuk surga atau Neraka?


Mukidi: Tidak kedua-keduanya Ibu Guruuu..


Bu Guru: Lohh Kenapa?


Mukidi: Sebab waktu ayah saya sebelum meninggal dunia, beliau pernah berpesan, ' Mukidi...Apapun yang terjadi...kamu harus masuk TENTARA..!!

CERITA MUKIDI DENGAN SEPASANG REMAJA KIMPOI

Dibalik keramahan Mukidi ternyata ia punya kebiasaan jelek, yaitu suka ngintip orang yang sedang pacaran. Tempat favoritnya untuk mengintip adalah nangkring di atas pohon. Di mana di bawahnya sering digunakan untuk pacaran.


Seperti biasanya, malam itu Mukidi sudah stand by me di atas pohon untuk mengintip. Dan benar saja tak berapa lama datang pasangan remaja muda bernama Kipot dan Kipit.


Karena dianggap sepi dan kondisi aman terkendali Kipot dan Kipit akhirnya indehoi. Mukidi benar-benar menikmatinya tontonannya.


Setelah capek kimpoi, keduanya bercakap-cakap:



Kipit : Pot, aku takut hamil.


Kipot : Enggak mungkin hamil, kan baru sekali ini.


Kipit : Tapi kata temenku bisa pot, Bagaimana dong?


Kipot : Kalau bener hamil, ya kita serahkan saja sama yang di atas.


Tiba-tiba Mukidi turun dari pohon dan marah-marah: "ENAK AJA LU, GUA CUMA NONTON, LU MINTA GUA TANGGUNG JAWAB, GAK BISAA!!


MUKIDI BEREBUT ANAK

Pada suatu peristiwa, Mukidi dan Ponikem baru saja bercerai dan sedang memperebutkan hak asuh anak semata wayang mereka.


Di ruang sidang pengadilan sang mantan istri Ponikem dengan pedenya berkata: 'Anak keluar dari perut saya, ya sudah pasti milikku'


Mukidi marah-marah dan menyanggah: 'Kok lucu asal ngomong saja, memang kalau uang keluar dari ATM terus uangnya milik ATM? Jelas sudah pasti uangnya punya yang masukin kartu ATM dong.'


Jaksa pun terbengong-bengong sambil manggut-manggut dan semua yang hadir di ruang sidang pun tertawa dan memberi tepuk tangan pada Mukidi.


Mukidi kok dilawan, ada-ada aja Ponikem!

MUKIDI YANG KELAPARAN VS PREMAN

'Mukidi yang kelaperan masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji. Baru saja Mukidi hendak memegangnya, tiba-tiba seorang pelayan datang tergopoh-gopoh.


'Maaf mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak pelanggan yang disana', kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman. Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar beratt, Mukidi tetap ngotot bahwa ayam goreng itu adalah haknya.


Pria bertampang preman itu segera menghampiri meja Mukidi dan menggertaknya.


'AWAS kalau kamu berani menyentuh ayam itu...!!! Apapun yang kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putus lehermu..!!!"


Mendengar ancaman seperti itu, Mukidi hanya tersenyum sinis sambil berkata, 'Silahkan! siapa takut?'


Lalu Mukidi segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilat pantatnya...


Hahahaha...

Hidup Lik Mukidi !!!

MUKIDI MEMBANTU NENEK KARTINEM

Suatu hari, Mukidi melihat mbah Kartinem sedang kebingungan di kantor pos.


'Bisa saya bantu nek?'


'Tolong pasangin perangko sama tulis alamatnya nak.'


'Ada lagi nek?'


'Bisa bantuin tulis isi suratnya sekalian?' Mukidi mengangguk. Si mbah lalu mendiktekan surat sampai selesai.


'Cukup nek?'


'Satu lagi nak. Tolong di bawah ditulis:... maaf tulisan nenek jelek.'

KUNCINYA GAK ADA

Markonah istri Mukidi saat itu sedang belanja untuk bikin kue lebaran



'Mas ada terigu?'

'Gak ada bu'


'Telor?'

'Kosong bu?'


'Gula pasir?'

'Habis'


'Gimana sih Terigu gak ada, telor kosong, gula pasir habis. Kenapa gak ditutup saja tokonya?'


'Kuncinya gak ada bu.'

WAKIJAN SUDAH INSYAF DAN MULAI RAJIN NGAJI

"Mas Wakijan, sholat Subuh ada berapa rakaat?" Ustad ngetes.

"4, ustad!"

"Mas Wakijan pulang dulu deh, cari jawaban yang benar."

Di tengah jalan Wakijan ketemu Mukidi sahabatnya: “Di, menurut kamu sholat Subuh ada berapa rakaat?”

"Ya 2 lah."

"Wah payah dah, mendingan lu pulang deh. Belajar lagi."

"Emang kenapa?"


"Nah gue bilang 4 aja masing salah, apalagi 2?"

MUKIDI NAIK UNTA ARAB

Ketika lagi banyak duit, Mukidi akhirnya liburan ke Arab. Seperti kebiasaan orang Indonesia lainnya. Dia juga ikut tour naik unta. Tapi unta di Arab tidak seperti unta di Indonesia nurut-nurut, Mukidi cukup bilang, 'duduk' dalam seketika unta pun langsung duduk menuruti perintahnya.



Namun lain kejadiannya pada Unta di Arab, walaupun Mukidi sudah bilang: 'Duduk, sit.. sit, jongkok, diuk.'


Sang unta tetap berdiri, dan akibatnya Mukidi tidak bisa naik.


Tiba-tiba datanglah Pawang Unta dan berkata : 'Bilang Assalamualaikum dulu, baru unta mau duduk.'

Mukidi: 'Asalamualaikum' aneh bin ajaib unta pun langsung duduk, Mukidi akhirnya naik, unta langsung berdiri lagi.


Mukidi: 'Jalan.. jalan..' unta tetap diam. Dipukul pukul punggungnya, unta pun tetap tidak mau jalan.


Pawang Unta : 'Bilang Bismillah ....

Mukidi : 'Bismillah'

Onta jalan, Mukidi senang banget jalan naik unta dengan Pawang Unta berjalan di sampingnya.


Tak lama kemudian Mukidi bertanya, 'Pawang, Bagaimana cara nyuruh untanya lari ya?

Pawang Unta: 'Bilang aja Alhamdulilah'

Mukidi : 'Alhamdulilah...'Dan akhirnya unta pun berlari...


Mukidi senang sekali. Saking senangnya Mukidi bilang lagi 'Alhamdulilah.' Alhasil si unta berlari tambah kencang, dan si Pawang Unta makin ketinggalan.


Ketika Mukidi sudah jauh si Pawang Unta baru ingat, belum memberi tahu caranya onta berhenti. Dari jauh Pawang Unta berteriak: 'Kalo mau berhenti bilang Innalillahi..'


Karena sudah jauh Mukidi tidak mendengar. Dan si unta terus berlari dengan kencang. Sampai akhirnya di kejauhan Mukidi melihat di depan ada jurang yang sangat dalam. Mukidi ketakutan, dan mencoba menghentikan onta: 'Stop, stop, stoooop, stooop, oop, oop..!!'


Unta tetap berlari kencang, sedangkan jurang sudah terpampang di depan mata. 'Mati gue!' kata Mukidi. Tahu nasibnya akan jatuh kejurang dan matek.


Dalam kepanikannya dia berteriak: 'Innalillahi..!!' sambil memejamkan mata pasrah. Unta mendadak berhenti. Dan ketika Mukidi membuka mata. Dia melihat persis di tepi jurang. Saking senangnya tidak jadi mati, Mukidi berteriak: 'Alhamdullilah!'


PLUNG!!! .....

SALAH SAMBUNG

Ketika waktu istirahat, Mukidi memasuki kantin karyawan di pabriknya pada hari pertama dia bekerja di perusahaan itu. Gadis pelayan kantin menyambutnya dengan ramah.

“Selamat siang mas Wakijan, mau makan apa?” Mukidi kaget atas sambutan akrab tadi walaupun dia kaget karena dipanggil sebagai Wakijan. Tadinya dia mau menjelaskan nama sebenarnya, namun karena pengunjung makin bertambah dan pelayan makin sibuk maka dia diam saja : “What is in a name?” pikirnya.

Mukidi memilih menu, lalu menunggu pesanannya.Makan siang berikutnya demikian pula, kembali si mbak pelayan melayaninya dengan akrab dan masih tetap memanggilnya Wakijan.

Hari berikutnya masih begitu, dan dia berusaha mendiamkan kekeliruan ini berlangsung terus, sampai sebulan kemudian karena merasa tidak tahan dengan kelirumologi itu, suatu kali makan siang dia sengaja tidak buru-buru kembali ke kantor dan mengajak bicara si mbak pelayan yang sok akrab itu.

“Mbak, dengarkan baik-baik ya, nama saya Mukidi bukan Wakijan!” Mukidi menjelaskan dengan mantap, “ingat ya, Mukidi..” sementara si mbak hanya senyam-senyum saja.

Keesokan harinya ketika istirahat makan siang si mbak kantin berlari-lari menyambutnya lebih semangat dari hari-hari sebelumnya.

“Mas Wakijan….mas Wakijan…ke sini deh saya bilangin..” si mbak menggandengnya dan menarik kursi duduk berhadapan, lalu:


“Mas Wakijan percaya nggak, kemarin ada orang miriiiip sekali sama mas Wakijan. Namanya Mukidi!” Mukidi hampir pingsan…




KOSMETIK

Menjelang Idul Fitri Markonah tertarik membeli kosmetik mahal asli Paris bukan beli dari MLM seperti teman-temannya. Kosmetik ajaib yang lebih mahal dari Bobbi Brown, Stila, dan Mac menurut salesgirlnya memberi garansi, pemakainya akan tampil jauh lebih muda dari usianya.


Setelah berjam-jam duduk di depan meja rias, mengoleskan kosmetik ‘ajaib’ nya, dia bertanya kepada Mukidi, sang suami:

“Mas, sejujurnya berapa tahun kira-kira usiaku sekarang?”

Mukidi memandang lekat-lekat istrinya tercinta.

“Kalau dilihat dari kulitmu, usiamu 20 tahun; rambutmu, hm…18 tahun….penampilanmu; 25 tahun…”

“Ah mas Mukidi pasti cuman menggoda,” Markonah tersipu manja.


“Tunggu dulu sayang, saya ambil kalkulator….. saya jumlahkan dulu ya…..”